Malam ini, di malam ke- seribu dua ratus tiga. Aku masih mengukir namamu dalam aksara doa. Jika suatu hari nanti, Tuhan menggerakkan hatimuβ¦ Ingatlah bahwa pernah ada aku yang mencintaimu menggunakan hati yang kugunakan juga untuk berdoa, agar ketika Tuhan melihat hatiku, Ia juga sanggup untuk melihatmu. Di malam ini, aku tak banyak meminta. Hanya lirih yang berkata βπ½πππ ππππππ ππ’πππ πππ π¦πππ πΈπππππ’ π‘ππππππππ π’ππ‘π’πππ’β ππππ πππππππππβ ππ π ππππππ πππππ π¦πππ ππππ’ππ‘π’πππ’ π’ππ‘π’π ππππβ πππππ‘ ππππ-ππ’.β Mungkin, rasa ini hadir bukan agar kau dan aku didekatkan. Melainkan cara semesta mendekatkan dan mengembalikanku, pada Tuhan. Lalu jika pada akhirnya, Tuhan memang berkehendak untuk menyatukan. Akan kuingat malam ini, dimana namamu tak usai ku langitkan. Lalu aku akanβ sangat bersyukur, karena jika pada akhirnya kita dipertemukan kembali untuk saling menetap, maka aku tahu bahwa itu berarti Tuhan telah memilihkanmu untukku, ππ’πππ βπππ¦π π ππππππ βππ‘πππ’ π¦πππ ππππππππππππππ’.
(Potongan Cerpen PAI)
πΊπππππ πΉππππ
πππππππ
#aksararenjana