Aku pernah merasa seperti gajah besar, kuat, tapi diam.
Orang-orang melihatku seolah aku tak akan runtuh. Mereka mengira aku mampu menanggung apa saja, hanya karena aku terlihat tegar. Seperti gajah yang berjalan pelan, pasti, tanpa banyak suara padahal di dalamnya, ada lelah yang tak pernah benar-benar diceritakan.
Gajah dikenal tak mudah lupa.
Dan aku pun begitu.
Aku menyimpan terlalu banyak kata-kata yang melukai, harapan yang tak kembali, juga orang-orang yang pernah datang lalu pergi tanpa pamit. Semuanya tinggal, menumpuk, tanpa pernah benar-benar hilang.
Kadang aku ingin menjadi ringan, seperti burung yang bisa terbang dan meninggalkan semuanya. Tapi aku adalah gajah aku berjalan, membawa ingatan ke mana pun aku pergi.
Namun hari ini aku mulai mengerti sesuatu.
Bahwa menjadi gajah bukan berarti harus terus memikul semuanya sendirian. Bahkan makhluk sebesar itu pun hidup berkelompok, saling menjaga, saling menguatkan.
Dan mungkin, aku juga boleh belajar begitu.
Tidak harus selalu kuat.
Tidak harus selalu diam.
Tidak harus selalu menanggung semuanya sendiri.
Karena di balik tubuh besar dan langkah tenang itu,
gajah juga punya hati yang lembut
dan begitu pula aku.
Kini ku tau, puji di dalam olokan
“Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik”
shafwa
supprimer les commentaires
Etes-vous sûr que vous voulez supprimer ce commentaire ?