Ramadan selalu datang dengan cara yang lembut. Tahun ini, ia hadir bersamaan dengan sunyi yang berbeda. Kursi di sudut ruang makan masih ada, tapi sosok yang biasa duduk di sana hanya tinggal kenangan. Saat sahur pertama, aku menatap jam dinding sambil menahan rindu—rindu pada tawa kecil, pada suara yang selalu mengingatkan agar tidak lupa niat. Di antara dinginnya pagi, aku belajar bahwa kehilangan juga bagian dari ujian yang Allah titipkan.
Hari-hari puasa berjalan perlahan. Aku mulai menyadari bahwa lapar bukanlah musuh, melainkan pengingat. Pengingat untuk menahan amarah, menimbang kata, dan memaafkan lebih dulu. Setiap azan Magrib berkumandang, aku pulang lebih cepat, duduk bersama keluarga, berbagi cerita sederhana yang dulu sering terlewat. Ramadan mengajarkanku bahwa kebersamaan tidak selalu tentang waktu yang panjang, tetapi tentang hati yang hadir sepenuhnya.
Di malam-malam terakhir, aku menengadah lebih lama dari biasanya. Doa-doa yang dulu terbata kini mengalir dengan jujur. Aku paham, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang untuk pulang—kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada Tuhan. Saat bulan itu perlahan pergi, ia meninggalkan sesuatu yang tinggal lama: hati yang lebih tenang dan iman yang tumbuh diam-diam.
Rindu adek