Upptäck inlägg

Utforska fängslande innehåll och olika perspektiv på vår Upptäck-sida. Upptäck nya idéer och delta i meningsfulla samtal

Dalam kehidupan sehari-hari, makan sering dianggap sekadar rutinitas untuk mengisi perut. Tapi Islam mengajarkan bahwa makan bukan hanya soal fisik, melainkan juga tentang adab, kebersamaan, dan kehangatan hati.

Tahukah kamu? Rasulullah ﷺ biasa berbincang saat makan bersama para sahabatnya. Beliau tidak hanya makan dalam diam, tetapi menyelingi dengan kata-kata penuh hikmah, doa, bahkan canda yang menyejukkan.
Ini menunjukkan bahwa makan sambil ngobrol, selama dengan adab dan tidak berlebihan, adalah bagian dari sunnah. Bukan hanya mengisi perut, tapi juga mengisi hati dengan keakraban, kasih sayang, dan ukhuwah.

Yuk, hidupkan sunnah dalam makan. Bukan hanya "Apa yang kita makan?", tapi juga "Bagaimana kita makan?" dengan adab, kebersamaan, dan hati yang penuh syukur.

Sumber Gambar: Surabaya Mengaji

image

Sholat adalah momen terindah seorang hamba bertemu dengan Rabb-nya. Tapi tahukah kita? Keindahan itu tidak berakhir dengan salam terakhir. Justru, selepas sholat adalah saat-saat penuh keberkahan, di mana langit terbuka dan pintu-pintu rahmat terbentang luas.

Rasulullah ﷺ tidak langsung beranjak setelah sholat. Beliau duduk sejenak, berdzikir, memohon ampun, dan memuji Allah. Dalam riwayat disebutkan, dzikir dan doa selepas sholat memiliki keutamaan besar penghapus dosa, penenang hati, dan bukti cinta kita kepada Allah.

Namun, hari ini kita sering tergesa-gesa. Baru salam, langsung berdiri, langsung pergi. Padahal, berdiam diri sejenak selepas sholat adalah bentuk adab dan khusyuk. Ia melatih hati untuk tidak terburu-buru meninggalkan pertemuan dengan Sang Pencipta.

Yuk, mulai sekarang, jangan langsung bangkit setelah salam.
Karena terkadang, hidayah besar datang bukan saat berdiri, tapi saat kita duduk diam, merenung, dan menyebut nama-Nya.

Sumber Gambar: oganilirmengaji

image

Penulisan shalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak selayaknya untuk disingkat dengan ‘SAW’ atau yang semisalnya. Termasuk dalam hukum ini juga adalah penulisan subhanahu wata’ala disingkat menjadi SWT, radhiyallahu ‘anhu menjadi RA, ‘alaihissalam menjadi AS, dan sebagainya.

Yukk, latih dan membiasakan untuk menuliskannya secara lengkap dan benar, karena keduanya adalah bentuk doa dan pujian.

Sumber Gambar: TheQuranPath

image

Jangan Mudah Menerima Berita Media
Di era informasi yang begitu cepat dan mudah diakses seperti sekarang, berita dan kabar datang silih berganti. Namun, tidak semua yang kita dengar atau baca itu benar adanya. Kadang, berita yang belum jelas kebenarannya bisa membuat kita salah paham, bahkan memicu perpecahan dan kegelisahan.
Lakukanlah Tabayyun, Kroscek atau carilah kejelasan terhadap berita-berita media, jangan terima mentah-mentah begitu saja.
Dengan bertabayyun, kita turut menjaga kedamaian dan keharmonisan di lingkungan sekitar. Mari bersama-sama menjadi masyarakat yang cerdas dalam menyikapi berita, agar kita tidak menjadi bagian dari penyebar hoaks dan informasi yang salah.

Yuk, mulai sekarang cek dulu kebenarannya, tanyakan sumbernya, dan pikirkan dampaknya sebelum menyebarkan berita. Bersama, kita bisa ciptakan lingkungan yang lebih aman dan damai.

Sumber Gambar: al.fiqotun.najiyah

image

Si Manis Perangkai Kata!

Bagi kami, merangkai kata menjadi sajak tentu tidak mudah saat itu. Satu hobi yang menjadikan satu buku ini menjadi berwarna. Kedekatan kami layaknya berteman memang banyak kisah uniknya. Sama-sama menjadi guru Bahasa Indonesia meski di pulau yang berbeda. Kami tidak sering bercerita melalui media sosial. Kami juga tidak sering bertanya kabar meski hanya melalui pesan singkat. Namun, setiap liburan semester tiba, kami sering merencanakan bepergian ke pantai. Pantai yang dari zaman sekolah dulu sering ku kunjungi. Paling kami bertukar cerita saat pertemuan itu saja. Namun, persahabatan kami terasa hangat. Sambil menatap ombak di laut dan menyantap makanan khas kota Padang di tepi pantai, kami saling berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing selama berada di pulau yang berbeda. Ternyata cerita kami sangatlah seru, hingga tak terasa waktu senja pun menghampiri. Di akhir pertemuan kami saat itu, kami merencanakan untuk menulis antologi yang bertemakan tentang perjalanan kisah saya di rantau dan perjalanan kisah teman saya di kampung halaman. Profesi kami yang sama-sama jadi pendidik ini patut untuk dilukiskan dalam sebuah tulisan yang nantinya bisa kami kenang. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmusholihat, sejak hari itu sampai pada akhir tahun 2021, buku ini bisa kami susun dengan judul "Si Manis Perangkai Kata"

image

Pernah merasa insecure?

Pernah merasa insecure karena bukan siapa-siapa? karena tidak punya privilage atau karena tidak goodlooking?

Sebenarnya kamu tidak perlu inscure kalau kamu bergantung sama Allah Ta'ala. Karena Allah maha mampu cukupkan semua, Allah mampu kasih jalan buat kita, Allah mampu gerakan hati manusia, dan Allah mampu bantu kita entah bagaimana caranya. Sebagaimana yang terdapat pada surat Ath Thalaq/65:3 yang artinya:

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya"

Kalau kamu mengerti seberapa hebatnya kemampuan Allah, maka kamu akan bergantung denganNya. dan ketika kamu sudah bergantung denganNya, tidak akan ada lagi rasa insecure pada diri kamu.

Referensi: https://almanhaj.or.id/
@hijratime

#tahukahkamu

بسم الله الرحمن الرحيم

☘ MEMPERBANYAK SENYUM

Senyum kepada lawan bicara, atau orang yang ditemui, akan mencairkan hati dan menimbulkan kebahagiaan. Tidak ada hati yang fitrah dan bersih kecuali pasti akan memberikan respon positif terhadap senyuman. Wajah yang penuh senyuman adalah akhlak

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat Jarir bin Abdillah Radhiallahu’anhu :

“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku” (HR. Bukhari, no.6089).

Selain menjadi bagian dari praktek akhlak mulia Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, senyuman juga hal yang diperintahkan oleh beliau kepada ummatnya dalam berinteraksi sosial.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Hadits ini juga dalil bahwa senyum itu merupakan sedekah. Walhamdulillah, betapa Allah itu Ar Rahim, sangat penyayang kepada hamba-Nya. Karena ternyata sedekah itu tidak harus dengan uang atau harta benda. Cukup menggerakkan otot wajah dan bibir, membentuk sebuah senyuman, seseorang sudah bisa bersedekah. Betapa banyak orang yang ditemui setiap hari sehingga betapa banyaknya sedekah yang dilakukan jika kita mempraktekan akhlak mulia ini.
Andai anda berat untuk tersenyum, setidaknya janganlah bermuka masam, kecut, sinis kepada orang lain. Sekedar memasang muka yang cerah, itu sudah dihitung kebaikan dalam Islam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu” (HR. Muslim, no. 2626)

Barakallahu fikum

Picture dan Materi: by grub Kajian Cintah Sunnah 23

image

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Inilah bagian penutup dari Surah Al-Baqarah (Ayat 286), sebuah doa yang mengajarkan kita tentang Rahmat Allah. Melalui doa ini, kita memohon ampunan atas kelupaan dan kesalahan, keringanan agar tidak dibebani ujian yang terlalu berat (seperti umat terdahulu).
Pertolongan dari Dzat yang Maha Melindungi.
Keutamaan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya mencukupinya." (HR. Bukhari & Muslim).
Yuk, rutinkan baca ini. Semoga kita selalu dicukupi, diampuni, dan dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin.

image

#onedayonenashihah

Pagi ini, seorang muslimah yang beriman dipanggil untuk menata hatinya dengan cahaya Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Dalam hiruk-pikuk dunia yang sering melelahkan, ia diingatkan untuk menjaga kehormatan dirinya sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur: 31, bahwa pandangan dan kemuliaan diri adalah amanah yang harus dijaga. Ia bukan sekadar sosok yang terlihat, tetapi pribadi yang memancarkan ketenangan dan adab.

Ketika ujian datang, sabar menjadi perisai. Hadits riwayat Muslim mengajarkan bahwa setiap urusan seorang mukmin adalah baik, karena ia tahu bahwa takdir Allah selalu berpihak pada kebaikan. Maka, muslimah yang sabar bukanlah yang tak pernah menangis, tapi yang tetap teguh meski hatinya diuji.

Ilmu menjadi lentera dalam langkahnya. Rasulullah ﷺ menyebut bahwa jalan menuju ilmu adalah jalan menuju surga. Maka muslimah yang belajar, membaca, dan merenung adalah pejuang yang sedang menyiapkan bekal untuk akhirat dan memperkuat peran di dunia.

Di tengah ketidakpastian, tawakkal menjadi sandaran. QS. At-Talaq: 3 menegaskan bahwa siapa yang bertawakkal, Allah akan mencukupkan. Muslimah yang bertawakkal tidak mudah goyah, karena ia tahu bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang berserah.

Akhirnya, ia diingatkan untuk menjadi penebar manfaat. Hadits dari Thabrani menyebut bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Maka muslimah yang menyapa dengan lembut, menulis dengan hikmah, dan mendoakan dengan tulus adalah cahaya bagi sekelilingnya.

Hari ini, jadilah muslimah yang kuat namun lembut, yang tenang namun penuh semangat. Karena setiap langkahmu, setiap kata yang kau pilih, dan setiap doa yang kau panjatkan adalah bagian dari ibadah yang dicintai Allah.

image

#tahukahkamu

🌻 *بسم الله.....

Lisan: Menyesal Atau Penjarakan.

Bicara baik, atau diam.
Enggan diam, penjarakan.

Itu yang hendaknya dilakukan kepada lisan.

Ibnu Mas’ud rahimahullah berkata,
“Tiada sesuatu di muka bumi ini yang lebih layak untuk terpenjara lebih lama dari lidah"
📙 (Jami’ul ‘Ulum: 1/34

Betapa sering hasil ucapan membuat kita menyesal.
Sesuatu yang tidak terjadi apabila memilih diam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatkan,

وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

Jangan engkau berucap sesuatu yang membuatmu meminta maaf di hari esok
📚(Hasan, HR. Ahmad: 23498 , Ibnu Majah: 4171, as-Shahihah: 401 al-Albani)

Makna hari besok; boleh jadi ia adalah hari di dunia, kala orang lain menuntut akibat dari ucapan.

Atau bisa jadi kelak di akhirat ketika seluruh anggota badan diminta pertanggung jawaban. Termasuk lisan


✰•¨•.¸¸★*・゚🌿🌿・☆¸¸.•*✬¨•


5 Manfaat Menjaga Lisan Yang Akan Kamu Petik.

🔹1. Menjaga Lisan Menjadi Sebab Diampuniya Dosa-Dosa Sekaligus Akan Memperbaiki Amalmu.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. “
📖(QS. Al Ahzab : 70-71)


🔹2. Menjaga Lisan Merupakan Jaminan Bagi Hamba Untuk Masuk Surga.

“Barangsiapa yang menjamin untukku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.”
📚(HR. Bukhari)

🔹3. Dengan Menjaga lisan,Kamu Akan Selamat Di Dunia Maupun Akhirat

“💫*Barangsiapa yang diam niscaya ia akan selamat. “ *
📚(HR. Tirmidzi, shahih)

🔹4. Seluruh Anggota Badan Akan lurus Dan Istiqomah Dengan Lurusnya Lisan

“Jika manusia berada di waktu pagi, maka semua anggota badannya menyalahkan lisan. Mereka berkata, “ Wahai lisan, bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami karena sesungguhnya kami tergantung pada dirimu, Jika kamu bersikap lurus, maka kami pun akan lurus. Namun jika engkau menyimpang, maka kamipun akan menyimpang. “
📚(HR. Tirmidzi, shahih)

🔹5. Menjaga Lisan Bisa Menjadi Tanda Keimananmu.

“Barangispa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata yang baik atau diam. “
📚(HR. Bukhari dan Muslim)

Barakallahu fikum

----------••♛♛♛••----------


Materi and picture by: KAJIAN CINTAH SUNNAH 23

image