발견하다 게시물

Discover 페이지에서 매력적인 콘텐츠와 다양한 관점을 살펴보세요. 신선한 아이디어를 발견하고 의미 있는 대화에 참여하세요.

ADAB SEBELUM ILMU
#resumekajian
Adab sebelum ilmu adalah prinsip penting yang selalu ditekankan oleh para ulama dan guru-guru Islam. Ustadz Abu Salma mengingatkan bahwa seseorang yang ingin menuntut ilmu harus terlebih dahulu memperbaiki sikap dan perilakunya. Hal ini karena adab yang baik menjadi kunci untuk mempermudah pemahaman ilmu dan menjaga keberkahan dalam proses belajar. Contohnya adalah menghormati guru, menjaga ketulusan niat, dan memiliki kesabaran saat menuntut ilmu.
Dalam sejarah Islam, banyak ulama besar yang menunjukkan betapa pentingnya adab sebelum ilmu. Salah satunya adalah Imam Malik, yang dikenal mendidik murid-muridnya dengan adab sebelum memberikan pelajaran tentang ilmu agama. Sikap ini mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab dapat membawa seseorang pada kesombongan dan bahkan kesalahan dalam mengamalkan ilmunya. Oleh karena itu, memahami pentingnya adab adalah langkah awal yang harus dilakukan sebelum mengejar ilmu.
Ustadz Abu Salma juga menekankan bahwa adab mencerminkan kebersihan hati seseorang. Dengan hati yang bersih, ilmu yang dipelajari akan lebih mudah meresap dan memberikan manfaat, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Proses ini mengajarkan bahwa adab adalah jalan menuju ilmu yang berkah dan bermanfaat, sehingga seseorang tidak hanya pintar secara intelektual tetapi juga mulia dalam akhlak.

#seputarramadhan


Bismillah..................
📒EDISI RAMADHAN 📒

💥 "INILAH BABAK FINAL"

Tidak seperti sebagian orang yang terlalu sibuk memikirkan hari raya, mudik dan baju lebaran, Rasul shallallahu‘alaihi wa sallam malah lebih giat lagi untuk beribadah di akhir-akhir bulan Ramadhan. Bahkan beliau sampai bersengaja meninggalkan istri-istrinya demi konsentrasi dalam ibadah.
Dan juga alasan semangat ibadah kala itu yaitu untuk menggapai Lailatul Qadar di sepuluh (1 hari terakhir Ramadhan.

Ada hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Bulughul Marom, yaitu hadits No. 698.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri- istrinya), menghidupkan malam- malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.”

[Muttafaqun ‘alaih]
[HR. Bukhari No. 2024 dan Muslim No. 1174].

Beberapa faedah dari hadits di atas :

1️⃣ Hadits di atas menunjukkan keutamaan beramal sholih di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan punya keistimewaan dalam ibadah dari hari-hari lainnya di bulan Ramadhan. Ibadah yang dimaksudkan di sini mencakup shalat, dzikir, dan tilawah Al Qur’an.

2️⃣ Kesungguhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ada dua alasan :

[1] Sepuluh hari terakhir tersebut adalah penutup bulan Ramadhan yang diberkahi. Dan setiap amalan itu dinilai dari akhirnya.

[2] Sepuluh hari terakhir tersebut diharapkan didapatkan malam Lailatul Qadar. Ketika ia sibuk dengan ibadah di hari-hari terakhir tersebut, maka ia mudah mendapatkan maghfiroh atau ampunan dari Allah Ta’ala.

3️⃣ Hadits tersebut menunjukkan anjuran membangunkan keluarga yaitu para istri supaya mendorong mereka melakukan shalat malam. Lebih-lebih lagi di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

4️⃣ Hadits itu juga menunjukkan anjuran menasehati keluarga dalam kebaikan dan menjauhkan mereka dari hal-hal tercela dan terlarang.

5️⃣ Membangunkan keluarga di sini merupakan anjuran di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, namun anjuran juga untuk hari-hari lainnya.

Selengkapnya di: https://rumaysho.com

Barakallahu fiikum..........

picture and materi by: grup whatsapp Manhaj Salaf

image

#onedayonetafsir

📕Al-Qur'an Al 'Azhim🌍
(💌Tafsir Ibnu Katsir📚)
🪷AL-QALAM🧿
(KALAM)

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah Makkiyyah, 52 ayat, turun sesudah Surah Al-'Alaq.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

🪷Al-Qalam Ayat 1-7
(Part 1)

{ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (١) مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (٢) وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (٣) وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤) فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (٥) بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ (٦) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٧)}

Nûn, demi qalam dan apa yang mereka tulis {QS.68: 1}. Berkat nikmat Rabbmu, kamu (nabi Muhammad) sekali-kali bukan orang gila {QS.68: 2}.

Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya {QS.68: 3}.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung {QS.68: 4}.

Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat {QS.68: 5}, siapa di antara kamu yang gila {QS.68: 6}.

Sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk {QS.68: 7}.

Mengenai huruf-huruf hijaiyyah ini telah dijelaskan sebelumnya di awal surah Al-Baqarah. Sedangkan firman Allah Azza wa Jalla ini:
Nûn {ن} adalah seperti ayat-Nya: {ق}، {ص}, dan semisalnya dari huruf-huruf yang terpisah di awal beberapa surah Al-Qur'an.

Dan pembahasan tersebut dirasa cukup, sehingga tidak perlu untuk dibahas lagi di sini.

Firman-Nya:

{وَالْقَلَمِ}
Demi kalam.

Secara lahiriyah tampak bahwa dia sejenis dengan pena yang dipergunakan untuk menulis. Misalnya pada ayat firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini:

{اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ}
Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya {Al-'Alaq: 3-5}.

Yang demikian itu, ayat tersebut merupakan sumpah dari Allah sekaligus peringatan bagi makhluk-Nya atas apa yang Dia anugerahkan kepada mereka berupa pengajaran tulis-menulis yang dengannya ilmu pengetahuan diperoleh.

Oleh karena, itu Allah berfirman:

{وَمَا يَسْطُرُونَ}
Dan apa yang mereka tulis (Al-Qalam: 1).

Abdullah bin Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengutarakan: Yakni apa yang mereka tulis.

Abudh-Dhuha menceritakan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini:

{وَمَا يَسْطُرُونَ}
Artinya: Dan apa yang mereka kerjakan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ}

Berkat nikmat Rabbmu, kamu (nabi Muhammad) sekali-kali bukan orang gila {Al-Qalam: 2}.

Maksudnya, Alhamdulillah engkau nabi Muhammad bukanlah seorang yang tidak waras seperti yang dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kaummu yang mendustakan apa yang engkau bawa kepada mereka, berupa petunjuk dan juga kebenaran yang nyata, sehingga mereka menyebut dirimu sebagai orang gila.

Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta'ala berfirman:

{وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ}

Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya {Al-Qalam: 3}.

Yakni, bahkan kamu mendapat pahala yang sangat besar dan balasan yang sangat banyak, yang tidak akan pernah putus dan juga tidak akan lenyap, karena penyampaian risalah yang kamu lakukan kepada umat manusia dan berkat kesabaranmu atas gangguan yang mereka timpakan kepadamu.

Makna kalimat firman-Nya ini:

{غَيْرَ مَمْنُونٍ}
(Yang tidak putus-putusanya).
Berarti tidak akan pernah putus.

Adapun Mujahid berkata:
{غَيْرَ مَمْنُونٍ}
Artinya tidak terhingga.

♻🍂♻🍂

Sumber (Disalin dari):
1) Kitab Al Qur'an Tafsir Ibnu Katsir
Pentahqiq (Penyusun):
Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh
Penterjemah:
M. Abdul Ghoffar, E.M
Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i Jakarta.

2) Ebook Terjemahan Hadits 8 Imam (+) Al Qur'an Tafsir Ibnu Katsir.
Karya:
📚Al Hafidz Ibnu Katsir
Penerbit:
Barakah Aplikasi.

Posted by:
📕AIS_Tafsir Ibnu Katsir
❄🌻❄🌻❄🌻

Materi by: grup whatsapp Tafsir ibnu Katsir (Akhwat)

#seputarramadhan

BERSYUKURLAH, KARENA TELAH DIBERI NIKMAT DIMUDAHKAN BERPUASA RAMADHAN

Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah berkata:

من آداب ‌ الصيام ⁩ ‌ المستحبة :أن يستحضر الصائم قدر نعمة الله عليه بالصيام ، حيث وفقه له ويسره عليه حتى أتم يومه وأكمل شهره ، فإن كثيرا من الناس حرموا الصيام إما بموتهم قبل بلوغه أو بعجزهم عنه،فليحمد الصائم ربه على نعمة الصيام

"Di antara adab puasa yang sangat dianjurkan ialah bahwa seorang yang berpuasa menyadari besarnya nikmat Allah atas dirinya dengan puasa, ketika Allah membimbing dan memudahkannya untuk berpuasa sehingga ia mampu menyelesaikan hari dan menyempurnakan bulannya untuk berpuasa.

Karena banyak dari manusia yang terhalang berpuasa, apakah karena mereka meninggal sebelum tiba bulan puasa atau karena mereka tidak mampu berpuasa.

Maka, hendaklah orang yang berpuasa memuji Allah atas nikmat dari puasa ini."

📚 Majalis Syahri Ramadhan (79)

picture and materi by: grup whatsapp KAJIAN CINTA SUNNAH 23

image

#tahukahkamu


picture by: grup whatsapp KAJIAN CINTA SUNNAH 23

image

by: aliyah

image

Assalamu'alaikum,
Ramadhan udah day 14 aja dan malam ke 15..gimana nih puasanya?semangat puasanya dan tilawahnya ya..
Waktu Buka Puasa
Memunggu waktu azan maghrib bisa digunakan dengan kegiatan yang baik dan bermamfaat loh,seperti tilawah,berdoa, membantu ke2 orang tua.
Ayo manfaatkanlah waktumu dengan baik
Karena waktu itu berharga💕

image

#tahukahkamu

Dalam Islam, mencintai atau membenci secara berlebihan tidak dianjurkan karena dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi. Berikut beberapa prinsip Islam terkait hal ini:

1. Keseimbangan dalam Cinta dan Benci: Rasulullah ﷺ bersabda, "Cintailah orang yang kamu cintai sekedarnya saja, karena bisa jadi suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, karena bisa jadi suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu cintai" (HR. Tirmidzi). Hadis ini mengajarkan kita untuk menjaga moderasi dalam emosi.

2. Mencintai karena Allah: Islam mendorong agar cinta didasarkan pada ketaatan kepada Allah. Mencintai sesuatu secara berlebihan, baik itu harta, manusia, atau apapun, dapat menjerumuskan ke dalam bentuk syirik kecil atau penyimpangan. Allah berfirman: "Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah..." (QS. Al-Baqarah: 165).

3. Menghindari Kebencian yang Berlebihan: Kebencian yang melampaui batas dapat mendorong kita untuk berlaku tidak adil. Allah berfirman: "...dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..." (QS. Al-Maidah: 8).

4. Menjaga Hati dari Penyakit: Cinta atau benci yang berlebihan dapat menimbulkan penyakit hati, seperti iri, dengki, atau bahkan putus asa. Islam mengajarkan untuk selalu membersihkan hati dan mengutamakan rasa ikhlas serta tawakal.

Dengan menjaga keseimbangan ini, umat Muslim diajarkan untuk selalu mengarahkan hati dan perilaku mereka kepada ridha Allah.

picture by: grup whatsapp Tafsir Ibnu Katsir (Akhwat)

image

#kenalidirimu

﷽ ☪ Ramadan Mubarak
1446 H

FITRAH BAKAT

Fitrah/karakter bakat adalah sifat, pikiran dan tindakan yang alami dan berulang-ulang yang menghasilkan produktifitas.
Setiap anak yang lahir memiliki bakat yang unik, lain dari pada yang lain, yang dibawa sejak lahir.

Allah ta'ala berfirman:

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا

"Katakanlah (Muhammad) bahwa setiap orang akan berbuat sesuai dengan bakat pembawaannya, maka Robbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." (QS.Al Isra' : 84)

Muqotil mengatakan bahwa شَاكِلَتِه maknanya adalah جَبْلَتِه yaitu: pembawaannya (bakat bawaan) ( sumber: Tafsir Al Qurtuby)

Di dalam kitab Tuhfatul Maudud (hal 353-354), Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan,

“Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan, hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya selama itu diperbolehkan oleh syari’at.

Apa akibatnya bila dia dipaksa untuk fokus pada sesuatu yang bukan bakatnya?, Beliau rahimahullah melanjutkan,

"Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya."

Kemudian apakah yang seharusnya menjadi tugas orangtua?
Kata beliau rahimahullah,

" Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk di dalam hatinya yang masih polos. Namun apabila orang tua melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syari'at ( seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll-pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya."

Fitrah/karakter bakat pada masing-masing anak berbeda-beda, sehingga berkaitan dengan bakat, anak disebut "Very spesial and limitted edition", yaitu unik atau lain dari yang lain. Oleh karena itu bakat anak harus dipetakan.

(Ustadz Abdul Kholiq:
Pendidikan Karakter Nabawiyah)

Baarakallahu fiikum
> Membangun Karakter Ummat - Menebar Manfaat.


picture and materi by: grup whatsapp MATERI SOBAT HEBAT

image

#seputarramadhan

🍃 TIPS KHATAM AL-QUR'AN DI BULAN RAMADHAN
___________________________

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Barangsiapa yang membaca 1 huruf dari Al-Qur'an, maka ia akan mendapatkan 1 kebaikan. Dan dari 1 kebaikan tersebut, berlipat ganda menjadi 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan 'Alif lam mim' utu 1 huruf, akan tetapi Alif 1 huruf, laam 1 huruf, dan mim 1 huruf."

H.R. Bukhari

Picture by: grup whatsapp Konsultasi Syari'ah Akhwat3

image