Знакомьтесь сообщений

Изучите увлекательный контент и разнообразные точки зрения на нашей странице «Обнаружение». Находите свежие идеи и участвуйте в содержательных беседах

Malam ini, di malam ke- seribu dua ratus tiga. Aku masih mengukir namamu dalam aksara doa. Jika suatu hari nanti, Tuhan menggerakkan hatimu… Ingatlah bahwa pernah ada aku yang mencintaimu menggunakan hati yang kugunakan juga untuk berdoa, agar ketika Tuhan melihat hatiku, Ia juga sanggup untuk melihatmu. Di malam ini, aku tak banyak meminta. Hanya lirih yang berkata “𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐸𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑡𝑎𝑘𝑑𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘𝑘𝑢– 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑗𝑎𝑑𝑖𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑘𝑢 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑑𝑎-𝑀𝑢.” Mungkin, rasa ini hadir bukan agar kau dan aku didekatkan. Melainkan cara semesta mendekatkan dan mengembalikanku, pada Tuhan. Lalu jika pada akhirnya, Tuhan memang berkehendak untuk menyatukan. Akan kuingat malam ini, dimana namamu tak usai ku langitkan. Lalu aku akan– sangat bersyukur, karena jika pada akhirnya kita dipertemukan kembali untuk saling menetap, maka aku tahu bahwa itu berarti Tuhan telah memilihkanmu untukku, 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 ℎ𝑎𝑡𝑖𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛𝑚𝑢.

(Potongan Cerpen PAI)
𝑺𝒉𝒂𝒇𝒘𝒂 𝑹𝒂𝒎𝒂𝒅𝒉𝒂𝒏𝒏𝒊𝒔𝒂
#aksararenjana

Pukul tiga dini hari, aku bertanya pada rembulan di luar jendela. Bagaimana jika akhirnya, bukan namanya yang Tuhan tuliskan untukku? 𝐵𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑛𝑦𝑎, 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑘𝑑𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘𝑛𝑦𝑎? 𝐵𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑛𝑦𝑎, 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑑𝑜𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑗𝑢𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑎-𝑠𝑖𝑎? Malam itu, aku tak banyak meminta. Hanya diam dalam sujud panjang yang lama, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba. Lalu tiba-tiba, sehelai daun gugur di luar jendela. Setelahnya, aku teringat satu hal penting yang kulupakan… bunyinya seperti
“... 𝐷𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑠𝑒ℎ𝑒𝑙𝑎𝑖 𝑑𝑎𝑢𝑛 𝑝𝑢𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑔𝑢𝑔𝑢𝑟 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝐷𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖𝑛𝑦𝑎 (𝑝𝑢𝑙𝑎), 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑗𝑎𝑡𝑢ℎ 𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟 𝑏𝑖𝑗𝑖 𝑝𝑢𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑔𝑒𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖… 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑖𝑡𝑎𝑏 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎.”

(Potongan Cerpen PAI)
𝙎𝙝𝙖𝙛𝙬𝙖 𝙍𝙖𝙢𝙖𝙙𝙝𝙖𝙣𝙣𝙞𝙨𝙖
#aksararenjana

Diri ini masih belajar memahami dirinya sendiri.

Terkadang terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya ada banyak hal yang belum selesai. Luka-luka kecil yang belum sepenuhnya sembuh, pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung tanpa jawaban. Namun langkah tetap berjalan, meski pelan dan penuh ragu.

Pernah ada masa menjadi terlalu keras menuntut harus kuat, harus bisa, harus sempurna. Hingga akhirnya lelah datang, dan menyadarkan bahwa rapuh pun adalah bagian dari menjadi manusia.

Di dalamnya hidup banyak versi yang pernah jatuh, yang pernah bangkit, yang pernah kehilangan, dan yang masih diam-diam berharap.

Kini, ada keinginan untuk mengenal diri dengan lebih lembut.

Menerima tanpa membenci.
Menghargai tanpa membandingkan.
Dan merangkul diri sendiri, bahkan saat dunia terasa menjauh.

Karena pada akhirnya,
diri ini adalah rumah yang akan selalu ditempati seumur hidup sampai pada akhirnya menutup mata

Dan mungkin, untuk pertama kalinya,
ada usaha untuk benar-benar merasa cukup… dengan menjadi diri sendiri.

#semuabaikbaiksaja
#manusia

Aku pernah merasa seperti gajah besar, kuat, tapi diam.

Orang-orang melihatku seolah aku tak akan runtuh. Mereka mengira aku mampu menanggung apa saja, hanya karena aku terlihat tegar. Seperti gajah yang berjalan pelan, pasti, tanpa banyak suara padahal di dalamnya, ada lelah yang tak pernah benar-benar diceritakan.

Gajah dikenal tak mudah lupa.
Dan aku pun begitu.

Aku menyimpan terlalu banyak kata-kata yang melukai, harapan yang tak kembali, juga orang-orang yang pernah datang lalu pergi tanpa pamit. Semuanya tinggal, menumpuk, tanpa pernah benar-benar hilang.

Kadang aku ingin menjadi ringan, seperti burung yang bisa terbang dan meninggalkan semuanya. Tapi aku adalah gajah aku berjalan, membawa ingatan ke mana pun aku pergi.

Namun hari ini aku mulai mengerti sesuatu.

Bahwa menjadi gajah bukan berarti harus terus memikul semuanya sendirian. Bahkan makhluk sebesar itu pun hidup berkelompok, saling menjaga, saling menguatkan.

Dan mungkin, aku juga boleh belajar begitu.

Tidak harus selalu kuat.
Tidak harus selalu diam.
Tidak harus selalu menanggung semuanya sendiri.

Karena di balik tubuh besar dan langkah tenang itu,
gajah juga punya hati yang lembut
dan begitu pula aku.

Kini ku tau, puji di dalam olokan
“Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik”

Wajar jika ada kesalahan, kita #manusia bukan yang maha paling mulia.

#manusia

Hidup hanya sekali.
Tak ada pengulangan, tak ada versi cadangan.

Kita hanya sekali menjadi kecil tertawa tanpa alasan, percaya tanpa ragu.
Hanya sekali menjadi muda berlari mengejar mimpi, jatuh lalu bangkit tanpa banyak berpikir.
Dan nanti, hanya sekali menjadi tua belajar menerima, melepaskan, dan mengenang.

Semua datang satu kali, lalu pergi tanpa bisa dipanggil kembali.

Sering kali kita menunda—menunda bahagia, menunda mencoba, menunda berkata “aku ingin” atau “aku sayang.” Seolah waktu akan selalu memberi kesempatan kedua.

Padahal tidak.

Hidup ini bukan tentang menunggu saat yang sempurna, karena kesempurnaan tak pernah benar-benar datang. Ia tentang berani menjalani hari ini, dengan segala kurang dan lebihnya.

Jadi, hiduplah kini.
Rasakan detiknya, jalani langkahnya, dan jangan terlalu sibuk meragukan diri sendiri.

Karena saat waktu terus berjalan…
yang tersisa bukan berapa lama kita hidup,
melainkan seberapa benar kita pernah benar-benar hidup.

Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Tua hanya sekali
“Hiduplah kini”

#manusia

Ia menatap rubik itu lama warna-warnanya berantakan, tak ada satu sisi pun yang benar-benar utuh.

Seperti hidupnya akhir-akhir ini.

Ia mencoba memutar satu sisi, lalu sisi lainnya. Kadang terlihat hampir selesai, tapi satu gerakan kecil justru merusak semuanya lagi. Awalnya ia kesal, merasa tak pernah benar-benar berhasil.

Namun, semakin lama ia menyadari sesuatu.

Rubik itu tidak pernah marah saat diacak. Ia tidak pernah menyerah hanya karena bentuknya kembali berantakan. Ia hanya menunggu diputar lagi, dicoba lagi, tanpa lelah.

Mungkin hidup memang seperti itu. Bukan tentang sekali selesai, tapi tentang keberanian untuk terus memperbaiki, meski harus mengulang dari awal berkali-kali.

Dan di antara kekacauan itu, ada harapan kecil bahwa suatu hari, semua warna akan menemukan tempatnya sendiri.

#manusia

Ia menyukai mawar bukan hanya karena warnanya yang indah, tapi karena ia tahu, setiap kelopak yang lembut selalu dijaga oleh duri-duri yang tajam.

Katanya, hidup juga begitu. Kita tumbuh dengan luka-luka kecil yang diam-diam menguatkan. Duri-duri itu bukan untuk menyakiti tanpa alasan, tapi untuk melindungi sesuatu yang rapuh agar tetap utuh.

Namun, tak semua orang mengerti. Banyak yang ingin memetik tanpa hati-hati, lalu menyalahkan mawar ketika jari mereka terluka.

Padahal, mawar tak pernah berpura-pura. Ia sudah menunjukkan siapa dirinya sejak awal indah, tapi tidak mudah dimiliki.

Dan mungkin, kita pun sama. Belajar menjadi mawar yang berani mekar, meski tahu dunia tak selalu lembut. Menyimpan duri, bukan untuk melukai, tapi untuk menjaga hati yang pernah hampir hancur.

#manusia
#berbunga

Langit hari ini tak biru, tak pula benar-benar gelap. Ia abu-abu, seperti perasaan yang belum sempat diberi nama.

Di bawahnya, orang-orang tetap berjalan membawa harapan kecil yang disembunyikan di balik langkah tergesa. Tak ada yang benar-benar berhenti untuk bertanya: apakah langit sedang lelah, atau hanya sedang belajar menerima?

Aku memandang ke atas, lama. Ada tenang yang aneh di sana. Abu-abu itu tidak memaksa bahagia, tidak juga menenggelamkan dalam duka. Ia hanya ada—jujur, sederhana, tanpa kepura-puraan.

Mungkin, tidak apa-apa jika hari ini kita juga seperti langit itu. Tidak perlu selalu terang, tidak harus selalu kuat. Cukup bertahan, cukup ada.

Karena bahkan langit yang abu-abu pun tetap luas, dan tetap indah, dengan caranya sendiri.

#manusia

Terjebak di labirinmu

#manusia

image